Jenis Epilepsi dan Terapi Yang Tepat

Jenis Epilepsi dan Terapi Yang Tepat – Epilepsi pada dasaranya bukanlah penyakit yang menular, dan bisa disembuhkan. Tapi hingga kini banyak sekali kesalahpahaman terjadi tentang penyakit epilepsi ini. Epilepsi atau Ayan ini termasuk dalam golongan penyakit neurologi yang bisa menyerang siapa saja.

Jenis Epilepsi dan Terapi Yang Tepat

Penyebab epilepsi ini sebenarnya sulit sekali untuk ditentukan. Kenapa demikian? karena diagnosisnya harus hati-hati setelah melalui riwayat medis yang tepat. Beberapa keadaan yang bisa menyebabkan epilepsi salah satunya adalah gangguan otak sebelum lahir. Epilepsi sebenarnya dibagi menjadi dua jenis, diantaranya :

1. Jenis Epilepsi Umum

Jenis epilepsi umum ini juga terbagi lagi diantaranya :

Atonik. Serangan yang membuat kita tiba-tiba jatuh.
Tonik. Serangan kejang dan kuku seluruh tubuh.
Mioklonik. Kontraksi dari salah satu atau beberapa otot tertentu.
Tonik Klonik. Kejang seluruh tubuh yang terkadang ditandai dengan mulut berbusa.
Absence. Membuat kita hilang kesadaran. Biasanya kehilangan sadar hanya beberapa detik saja seperti bengong.

2. Jenis Epilepsi Parsial

Ini merupakan epilepsi jinak yang akan terjadi pada saat kita anak-anak. Banyak berita yang menyebutkan kalau epilepsi saat anak-anak itu merupakan “akhir segalanya atau jalan buntu” itu salah besar, karena dengan terapi yang tepat maka itu bisa mengurangi gejala kambuh untuk para penderitanya.

Baca juga : Virus Zika

Terapi Epilepsi

Sebelum menjalani terapi, ada baiknya cek dulu keluarga anda apakah ada riwayat epilepsi, agar lebih jelas dan pasti dalam memberikan jenis pengobatannya. Monoterapi adalah terapi awal yang bisa dilakukan yaitu dengan memberikan satu jenis OAE atau Obat Anti Epilepsi yang sudah dipilih sesuai dengan jenis penderita.

Jika dosis pertama tidak mampu menyembuhkan, dokter pastinya akan memberikan OAE kedua. Jika OAE yang kedua bisa mencapai kadar terapi, maka OAE yang pertama akan langsung diturunkan secara bertahap.

Selain monoterapi, ketogenik juga menjadi jenis terapi yang kedua dilakukan. Jenis kedua ini merupakan diet dengan kandungan lemak tinggi dan karbohidrat rendah ditambah protein agar bisa memicu ketosis.

Diet ketogenik ini mengandung 2-4 gram lemak untuk setiap 1 gram karbohidrat dan protein. Dengan ini, lemak menjadi sumber dari energi dan keton langsung terakumulasi dalam otak sehingga menjadi tinggi kadarnya. Keadaan ini dipercaya bisa membuat gejala epilepsi menjadi berkurang.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: